Bercengkerama Lebih Dalam dengan Social Distancing (Part 1)
"Jika kalian mencoba menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan mampu."
(QS. Ibrahim : 34)
Halo, Apa kabar? Aku harap kita semua masih dalam
keadaan sehat, semangat dan baik-baik saja ya🙂 Aamiin
Kali ini aku ingin berbagi sedikit pemahamanku perihal Social Distancing, yang biasanya lebih familiar kita sebut "Dirumah Aja". Ya,tulisan ini masih berhubungan kok sama tulisan pertama aku di tema ini. Oh iya jangan lupa baca kutipan Ayat Suci Al-Qur'an yang sengaja kutuliskan di atas ya, pahami juga maknanya ya, karena nanti tulisan ini bermaksud untuk membedah pemahamanku perihal Kalam Allah seperti yang ku tulis di awal. Harapanku semoga setelah baca ini, aku, kamu dan dia (halah apasih) maksutnya kita semua bisa lebih sabar, lebih bersyukur, lebih tawakkal dan lebih bersemangat buat Dirumah Aja. Oh iya, maaf sebelumnya diksi Social Distancing mungkin hanya ku pakai di judul saja He He He, untuk substansinya akan kuganti dengan diksi Di Rumah Aja, karena kalau diksi ini kupakai judul kayanya kurang pas aja.
Semenjak Pemerintah menggaungkan bahwa kebijakan yang ideal untuk menjawab pademik covid-19 yaitu dengan cara Social Distancing, dimana setelah itu kita semua sebagai masyarakat Indonesia lebih mudah menganggap bahwa Pemerintah ingin agar kita melakukan setiap pekerjaan dengan tetap tinggal di rumah masing-masing. Maksutnya apabila tidak ada urgensi yang cukup dapat menjadi alasan untuk kita keluar rumah dan bertemu banyak orang, maka lebih baik kita tidak perlu untuk ke luar rumah. Sebenarnya aku setuju perihal awal kebijakan Pemerintah untuk memilih alternatif Social Distancing, walaupun secara pengertian kebahasaan makna social distancing tidak sesempit pengertian Dirumah Aja, tapi aku pengen menggarisbawahi sebagian arti kecil dari Social Distancing dengan fokus pada arti Dirumah Aja.
Istilah Dirumah aja cukup terkenal, sejak awal diketahuinya korban pertama yang dinyatakan positif covid-19, maka sejak itu pula istilah Dirumah Aja semakin sering menjadi buah bibir para kalangan, baik dari kalangan remaja, dewasa maupun tua. Mereka sering memviralkan istilah tersebut dengan harapan agar penyebaran virus corona tidak mudah tersebar luas, sehingga dapat meminimalisir korban yang dinyatakan positif corona. Selain itu Dirumah Aja juga berarti bahwa kita disarankan agar dapat memperkuat imunitas masing-masing dengan cara makan-makanan bergizi, olahraga, mengonsumsi suplemen vitamin, istirahat yang cukup, dsb. Karena seperti yang kita tau, musuh yang sedang kita hadapi kali ini bukan hanya antara aku dan dia, tapi antara kita semua seluruh manusia dengan dia. Untuk itu agar kita bisa keluar menjadi pemenang, alangkah lebih baiknya kita patuh pada himbauan Pemerintah selama himbauan tersebut ternyata lebih dapat memberikan kebermanfaatan bagi seluruh manusia.
Disini aku tidak mau membahas kebijakan lain dari Pemerintah yang menimbulkan pro kontra diantara kita semua, aku hanya mencoba untuk bersikap netral. Terlebih perihal kebijakan ini aku termasuk masyarakat yang mendukung penuh bilamana kebijakan ini dapat dijadikan upaya preventif agar kita semua tidak terjangkit wabah ini. Sebenarnya agak kurang pas kalau bahas istilah social distancing tanpa ditemani istilah lockdown ya? Next tulisan mungkin ya, kali ini aku bahas ini dulu aja biar kita semua betah di rumah, oke!
Kebijakan Social Distancing (Dirumah Aja) menurutku sangat relevan dengan syari'at agama yang mulia kita. Hal ini sesuai dengan hadist Rosulullaah "Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu negeri dimana alian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu." (HR. Bukhiri dan Muslim) Hal ini berarti bahwasanya sebagai umat Muslim kita diwajibkan untuk selalu ikhtiar, tawakkal dan terus berkhusnudzon kepada Allah Ta'ala. Karena apabila kita tidak bertindak sesuai dengan apa yang telah Rosulullaah sabdakan, maka besar kemungkinan akan banyak orang-orang yang kita temui dapat tertular wabah yang kita bawa dari negeri kita. Sampai disini semoga kalian paham ya? Jadi jangan egois dengan nafsu kita ya :(. Bahkan seharusnya nafsu kita adalah musuh kita bukan teman yang justru selalu bersama kita. Karena pandemik ini, banyak sekali teman-teman aku walaupun mungkin mereka tidak kenal aku, tapi mereka adalah saudara seimanku. Mereka yang tidak mau mengalahkan nafsunya, justru menganggap moment-moment seperti ini adalah moment-moment yang pas untuk rekreasi, karena apa? Karena banyaknya diskon besar-besaran dalam segala hal khususnya pariwisata dan transportasi. Ada juga sebagian orang yang cukup berduit justru membeli seluruh barang-barang yang pada dasarnya itu merupakan salah 1 senjata bagi semua manusia untuk bertempur dengan corona, tapi telah mereka kuasai dengan tujuan untuk memperkaya diri sendiri. Ada juga karena banyak kegiatan yang dilakukan secara online, seperti proses belajar mengajar, yang berstatus pelajar, mahasisea dsb menggunakan kesempatan ini untuk nongki-nongki santuy. Astagfirullaah. Mereka punya nyawa kucing apa ya :(
Belum lagi jika dilihat dari segala penjuru kegiatan, seperti pendidikan, ekonomi, budaya, politik, hukum, dsb yang biasanya dapat berjalan sesuai tupoksinya masing-masing menjadi terhambat dan bahkan terkesan vakum karena kebijakan social distancing. Pernah tidak sedikit saja terbesit dalam pikiran kita, bahwa dengan kita lebih nyaman dan akrab serta bersahabat dengan social distancing itu artinya kita sedang menghargai kesehatan diri kita sendiri, menjaga nyawa yang Allah amanatkan kepada kita, juga menghargai, mensyukuri dan menjaga kesehatan serta nyawa orang-orang yang kita kasihi dan semua manusia yang kita sayangi tanpa terkecuali.
Memaknai perihal Dirumah Aja, tidak bisa kita negasikan hanya melihat dengan kacamata negatif kita saja. Aku paham, setiap kita adalah tuan bagi diri kita sendiri. Hanya saja jika bisa memberikan pandangan dari kacamata positif, bukankah itu lebih membahagiakan dan menentramkan? Pernah kudapati dari buku yang aku baca, bahwasanya setiap apa yang menyedihkan bagi kita, mengecewakan, menyakitkan, menyesakkan, dsb sebisa mungkin tumpahkan seluruhnya hanya kepada Allah dengan harapan bahwa setelah tetesan air mata, kegundahan, keraguan yang kita tumpahkan hanya kepada-NYA akan menjadi berkurang dan kita mendapatkan ketenangan. Bukankah hanya Allah sebaik-baiknya tumpuan yang harus selalu kita andalkan dalam segala hal. Maka kebalikan dari itu semualah yang pantas kita bagi, kita sebarkan seperti: menyebarkan semangat, menonjolkan pandangan positif dalam melihat setiap apa yang terjadi di dunia, sikap ikhlas, mengajak kebaikan, dsb kepada sesama saudara kita. Hal ini diharapakan dan diniatkan bukan untuk pamer, riya', sombong dsb. Tapi Lillahi Ta'ala. Aku bukan mau sok nasehatin, hanya saja aku sendiri kadang berpikir bagaimana bisa aku menceritakan masalahku kepada orang lain, karena aku yakin setiap orang pasti memiliki masalah. Dan bilamana aku menceritakan masalahku, aku takut ternyata orang yang sedang kuajak bercerita baik melalui sosmed, dsb ternyata telah merasakan masalah yang lebih besar dibanding masalah yang sedang kuhadapi. Jadilah salah 1 orang-orang yang selalu mengedepankan sikap positif dan cara berpikir positif Teman, aku juga baru belajar untuk jadi salah satunya. Mungkin kita bisa belajar bareng kan? 🙂 Karena ternyata apa yang kita pikirkan akan menjadi apa yang kita ucapkan, lalu yang kita ucapkan akan menjadi perilaku kita dan kemudian perilaku kita itulah yang akan menjadi karakter kita. Kita tidak mau bukan dinilai sebagai orang yang berpengerai buruk, karena seringnya kita menampakkan pikiran negatif dibanding pikiran positif kita. Let's do it! Aku yakin kita semua bisa!
Terakhir aku berharap setelah kita baca tulisan ini, kita mau lebih menghargai setiap apa yang telah Allah amanahkan kepada kita, lebih mensyukuri setiap apa yang Allah titipkan kepada kita, baik itu suka dan duka. Karena aku yakin, bukankah badai pasti akan berlalu? Siang akan berganti malam? Sedih akan menjadi bahagia? Ujian akan menjadi hikmah yang indah? Dst. Untuk itu sekaranglah waktunya kita yakin dan kita percaya bahwa pandemik ini, bahwa seluruh wabah ini akan berakhir sebelum datangnya bulan penuh keberkahan, bulan yang selalu kita nantikan kedatangannya yaitu Bulan Suci Ramadhan. Aamiin aamiin ya Rabbal 'Alaamiin.
"THIS TOO, WILL PAS" (DAN YANG INIPUN AKAN BERLALU)😊
Semenjak Pemerintah menggaungkan bahwa kebijakan yang ideal untuk menjawab pademik covid-19 yaitu dengan cara Social Distancing, dimana setelah itu kita semua sebagai masyarakat Indonesia lebih mudah menganggap bahwa Pemerintah ingin agar kita melakukan setiap pekerjaan dengan tetap tinggal di rumah masing-masing. Maksutnya apabila tidak ada urgensi yang cukup dapat menjadi alasan untuk kita keluar rumah dan bertemu banyak orang, maka lebih baik kita tidak perlu untuk ke luar rumah. Sebenarnya aku setuju perihal awal kebijakan Pemerintah untuk memilih alternatif Social Distancing, walaupun secara pengertian kebahasaan makna social distancing tidak sesempit pengertian Dirumah Aja, tapi aku pengen menggarisbawahi sebagian arti kecil dari Social Distancing dengan fokus pada arti Dirumah Aja.
Istilah Dirumah aja cukup terkenal, sejak awal diketahuinya korban pertama yang dinyatakan positif covid-19, maka sejak itu pula istilah Dirumah Aja semakin sering menjadi buah bibir para kalangan, baik dari kalangan remaja, dewasa maupun tua. Mereka sering memviralkan istilah tersebut dengan harapan agar penyebaran virus corona tidak mudah tersebar luas, sehingga dapat meminimalisir korban yang dinyatakan positif corona. Selain itu Dirumah Aja juga berarti bahwa kita disarankan agar dapat memperkuat imunitas masing-masing dengan cara makan-makanan bergizi, olahraga, mengonsumsi suplemen vitamin, istirahat yang cukup, dsb. Karena seperti yang kita tau, musuh yang sedang kita hadapi kali ini bukan hanya antara aku dan dia, tapi antara kita semua seluruh manusia dengan dia. Untuk itu agar kita bisa keluar menjadi pemenang, alangkah lebih baiknya kita patuh pada himbauan Pemerintah selama himbauan tersebut ternyata lebih dapat memberikan kebermanfaatan bagi seluruh manusia.
Disini aku tidak mau membahas kebijakan lain dari Pemerintah yang menimbulkan pro kontra diantara kita semua, aku hanya mencoba untuk bersikap netral. Terlebih perihal kebijakan ini aku termasuk masyarakat yang mendukung penuh bilamana kebijakan ini dapat dijadikan upaya preventif agar kita semua tidak terjangkit wabah ini. Sebenarnya agak kurang pas kalau bahas istilah social distancing tanpa ditemani istilah lockdown ya? Next tulisan mungkin ya, kali ini aku bahas ini dulu aja biar kita semua betah di rumah, oke!
Kebijakan Social Distancing (Dirumah Aja) menurutku sangat relevan dengan syari'at agama yang mulia kita. Hal ini sesuai dengan hadist Rosulullaah "Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu negeri dimana alian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu." (HR. Bukhiri dan Muslim) Hal ini berarti bahwasanya sebagai umat Muslim kita diwajibkan untuk selalu ikhtiar, tawakkal dan terus berkhusnudzon kepada Allah Ta'ala. Karena apabila kita tidak bertindak sesuai dengan apa yang telah Rosulullaah sabdakan, maka besar kemungkinan akan banyak orang-orang yang kita temui dapat tertular wabah yang kita bawa dari negeri kita. Sampai disini semoga kalian paham ya? Jadi jangan egois dengan nafsu kita ya :(. Bahkan seharusnya nafsu kita adalah musuh kita bukan teman yang justru selalu bersama kita. Karena pandemik ini, banyak sekali teman-teman aku walaupun mungkin mereka tidak kenal aku, tapi mereka adalah saudara seimanku. Mereka yang tidak mau mengalahkan nafsunya, justru menganggap moment-moment seperti ini adalah moment-moment yang pas untuk rekreasi, karena apa? Karena banyaknya diskon besar-besaran dalam segala hal khususnya pariwisata dan transportasi. Ada juga sebagian orang yang cukup berduit justru membeli seluruh barang-barang yang pada dasarnya itu merupakan salah 1 senjata bagi semua manusia untuk bertempur dengan corona, tapi telah mereka kuasai dengan tujuan untuk memperkaya diri sendiri. Ada juga karena banyak kegiatan yang dilakukan secara online, seperti proses belajar mengajar, yang berstatus pelajar, mahasisea dsb menggunakan kesempatan ini untuk nongki-nongki santuy. Astagfirullaah. Mereka punya nyawa kucing apa ya :(
Belum lagi jika dilihat dari segala penjuru kegiatan, seperti pendidikan, ekonomi, budaya, politik, hukum, dsb yang biasanya dapat berjalan sesuai tupoksinya masing-masing menjadi terhambat dan bahkan terkesan vakum karena kebijakan social distancing. Pernah tidak sedikit saja terbesit dalam pikiran kita, bahwa dengan kita lebih nyaman dan akrab serta bersahabat dengan social distancing itu artinya kita sedang menghargai kesehatan diri kita sendiri, menjaga nyawa yang Allah amanatkan kepada kita, juga menghargai, mensyukuri dan menjaga kesehatan serta nyawa orang-orang yang kita kasihi dan semua manusia yang kita sayangi tanpa terkecuali.
Memaknai perihal Dirumah Aja, tidak bisa kita negasikan hanya melihat dengan kacamata negatif kita saja. Aku paham, setiap kita adalah tuan bagi diri kita sendiri. Hanya saja jika bisa memberikan pandangan dari kacamata positif, bukankah itu lebih membahagiakan dan menentramkan? Pernah kudapati dari buku yang aku baca, bahwasanya setiap apa yang menyedihkan bagi kita, mengecewakan, menyakitkan, menyesakkan, dsb sebisa mungkin tumpahkan seluruhnya hanya kepada Allah dengan harapan bahwa setelah tetesan air mata, kegundahan, keraguan yang kita tumpahkan hanya kepada-NYA akan menjadi berkurang dan kita mendapatkan ketenangan. Bukankah hanya Allah sebaik-baiknya tumpuan yang harus selalu kita andalkan dalam segala hal. Maka kebalikan dari itu semualah yang pantas kita bagi, kita sebarkan seperti: menyebarkan semangat, menonjolkan pandangan positif dalam melihat setiap apa yang terjadi di dunia, sikap ikhlas, mengajak kebaikan, dsb kepada sesama saudara kita. Hal ini diharapakan dan diniatkan bukan untuk pamer, riya', sombong dsb. Tapi Lillahi Ta'ala. Aku bukan mau sok nasehatin, hanya saja aku sendiri kadang berpikir bagaimana bisa aku menceritakan masalahku kepada orang lain, karena aku yakin setiap orang pasti memiliki masalah. Dan bilamana aku menceritakan masalahku, aku takut ternyata orang yang sedang kuajak bercerita baik melalui sosmed, dsb ternyata telah merasakan masalah yang lebih besar dibanding masalah yang sedang kuhadapi. Jadilah salah 1 orang-orang yang selalu mengedepankan sikap positif dan cara berpikir positif Teman, aku juga baru belajar untuk jadi salah satunya. Mungkin kita bisa belajar bareng kan? 🙂 Karena ternyata apa yang kita pikirkan akan menjadi apa yang kita ucapkan, lalu yang kita ucapkan akan menjadi perilaku kita dan kemudian perilaku kita itulah yang akan menjadi karakter kita. Kita tidak mau bukan dinilai sebagai orang yang berpengerai buruk, karena seringnya kita menampakkan pikiran negatif dibanding pikiran positif kita. Let's do it! Aku yakin kita semua bisa!
Terakhir aku berharap setelah kita baca tulisan ini, kita mau lebih menghargai setiap apa yang telah Allah amanahkan kepada kita, lebih mensyukuri setiap apa yang Allah titipkan kepada kita, baik itu suka dan duka. Karena aku yakin, bukankah badai pasti akan berlalu? Siang akan berganti malam? Sedih akan menjadi bahagia? Ujian akan menjadi hikmah yang indah? Dst. Untuk itu sekaranglah waktunya kita yakin dan kita percaya bahwa pandemik ini, bahwa seluruh wabah ini akan berakhir sebelum datangnya bulan penuh keberkahan, bulan yang selalu kita nantikan kedatangannya yaitu Bulan Suci Ramadhan. Aamiin aamiin ya Rabbal 'Alaamiin.
"THIS TOO, WILL PAS" (DAN YANG INIPUN AKAN BERLALU)😊
Dari Aku,
Yang selalu berusaha menghargai apa itu Dirumah Aja dengan tetap produktif dan selalu berdo'a semoga semua ini lekas kembali sesuai dengan kodrati-NYA. Aamiin, dan ku harap kita semua juga berusaha untuk terus berkhusnudzon kepada Allah. Karena seperti yang kita tau, bahwa jika Allah telah berfirman : "Kun Fa Yakun" (Maka Jadilah). Tidak ada yang sulit jika Allah telah berkehendak. Dan tidak ada cara yang efektif untuk bisa menggapai ridho Allah, selain dengan cara kita selalu mematuhi Perintah-NYA dan menjauhi Larangan-NYA. Mari selalu belajar agama, belajar apapun yang penting itu baik, selalu memperbaiki diri, mengupgrade iman dalam situasi dan kondisi apapun! Semangat kita semua!
Yang selalu berusaha menghargai apa itu Dirumah Aja dengan tetap produktif dan selalu berdo'a semoga semua ini lekas kembali sesuai dengan kodrati-NYA. Aamiin, dan ku harap kita semua juga berusaha untuk terus berkhusnudzon kepada Allah. Karena seperti yang kita tau, bahwa jika Allah telah berfirman : "Kun Fa Yakun" (Maka Jadilah). Tidak ada yang sulit jika Allah telah berkehendak. Dan tidak ada cara yang efektif untuk bisa menggapai ridho Allah, selain dengan cara kita selalu mematuhi Perintah-NYA dan menjauhi Larangan-NYA. Mari selalu belajar agama, belajar apapun yang penting itu baik, selalu memperbaiki diri, mengupgrade iman dalam situasi dan kondisi apapun! Semangat kita semua!


Komentar
Posting Komentar