Perempuan Dibalik Seremonial


Malam ini kupetik sebuah sajak-sajak
Dari binar matamu kemarin lewat ilusi
Tatapan indah sang rembulan
Seolah berbicara pada setiap perempuan
Bergelayut manja kepadanya
Merayu dan membius siapa saja yang sedang menatapnya
Jika perempuan adalah berlian
Maka ia harus menjaga dan terjaga
Jika perempuan adalah intan
Maka ia harus berkualitas dan berkarakter
Jika perempuan adalah pedang
Maka ia harus kuat dan berani melawan perih dan luka
Dan jika perempuan adalah kamu
Maka jadilah mulia
Jadilah baik untuk dirimu dan yang lain
Jadilah mentari yang menyinari setiap apa yang kau lalui
Jadilah bintang yang indah memahami makna
Jadilah kamu perempuan seutuhnya

Untukmu perempuan
Bukankah dunia begitu kejam?
Ah, jangan bohong, aku tau kaupun merasa sama
Disaat sedang bahagia pasti akan datang pula sedih
Disaat datang cinta maka lukapun mengikuti
Disaat datang sayang maka patahpun menyertai
Yasudah. Jangan sedih lagi!
Cepat bangkit dan tersenyumlah!
Dunia ini hanya fana bukan?
Setiap yang ada hanya titipan, kaupun tau itu
Pesanku tetap jadi baik dimanapun dan kapanpun
Tetap jadi peduli kepada siapapun tanpa terkecuali
Tetap jadi mulia dengan terus mau memperbaiki diri
Semangat ya!
Kalian semua hebat, karena kalian adalah tonggak pertama sebuah peradaban
Jika kalian baik, baik pula peradaban itu
Namun, jika kalian buruk maka hancurlah peradaban itu
Jika hidup adalah pilihan, maka menjadi perempuan berkualitas adalah kebijaksanaan
(Wahidah, 2020)

      Laksana bunga mawar yang sedang merekah. Begitu sekiranya kata yang mampu menggambarkan betapa indahnya alunan bait bait puisi diatas apabila di lantunkan. Apalagi jika puisi tersebut dibacakan oleh seorang gadis manis bibir merah merona dengan alis tebal dan kerudung melambai sebagai penutup kepalanya, yang tentu saja akan membuat jantung kita semakin berdebar dengan sendirinya. Hal demikian tentu saja hanya akan berlaku jika engkau bisa merasakan getaran yang sama dengan frekuensi sang penulis syair. Karenapun jika engkau berbeda, puisi tersebut tak ubahnya hanya akan menjadi peluru yang mencabik cabik pembuluh darahmu dan bisa membunuhmu kapan saja, persis seperti puisi puisi karya Wiji Thukul yang selalu ia lontarkan untuk mengkritik pemerintah kala itu, tajam dan berbahaya. Begitulah sekiranya sedikit prolog untuk mengawali sedikit perbincangan santuy kita tentang perempuan kali ini. 

    Oke, mari kita mulai. Sebelumnya perlu untuk sekiranya menjadi perhatian bersama bahwa tulisan ini penulis buat dengan sepenuh hati, jadi untuk para reader yang budiman, penulis berharap untuk tidak baper dalam membaca setiap kata demi kata yang penulis tuliskan. Tidak dengan bahasa yang baku ataupun formal seperti prolognya. Karena, mengingat tulisan ini bukanlah surat resmi yang dikeluarkan oleh staff khusus presiden yang sempat menjadi perbincangan kala itu. Dan tulisan inipun hanya berisikan opini opini yang berserakan di pikiran penulis, yang penulis coba untuk merangkainya satu persatu agar nampak lebih tertata.

    Beberapa waktu yang lalu sempat ramai dan menjadi viral khususnya di media sosial YouTube, yakni tentang sebuah lagu yang menurut penulis sendiri itu adalah lagu yang sangat easy listening untuk diperdengarkan dikala sedang santuy, sembari menikmati secangkir teh hangat, disaat menanti senja, ditengah pandemi virus corona, yang semakin hari semakin memekakkan telinga dan tentu saja dengan segala hal yang mengekor dibelakangnya. Dari statementngaco” para penghuni istana hingga pada berbagi situs drama korea di jagat dunia maya. Ya, lagu tersebut berjudul Aisyah Istri Rasulullah yang dinyanyikan ulang oleh seorang aktor, model sekaligus penyanyi yang berasal dari Bireun, NAD yakni Syakir Daulay. Lagu ini cukup menjadi kontroversi ditengah kegamangan dan kerancuan berpikir manusia mengenai sosok perempuan. Ditambah lagi yang menjadi obyek dari lagu tersebut merupakan istri dari seorang nabi. Sehingga kesan tidak sopan menjadi semakin menguat dan menimbulkan perbincangan yang hangat hingga tulisan ini dibuat. Tulisan ini tidak akan membahas tentang siapa itu Aisyah, melainkan secara general tentang perempuan itu sendiri.

    Sebenarnya apa yang menjadi hakikat seorang perempuan? Dan apa sebenarnya yang menjadi hakikat seorang laki laki hingga pembahasan tersebut bisa menjadi sangat sensitif? Adakah yang salah dari niatan tuhan menciptakan keduanya di bumi ini? Dan bukan tidak mungkin semua akan menggunakan subyektifitas nya masing masing untuk menjawab beberapa pertanyaan diatas. Entah itu mereka yang menjawab dengan rasionalisasi berdasarkan sumber atau referensi yang jelas. Hingga yang hanya berdasarkan pada rasio akal mereka untuk mampu menjawab dan menjelaskanya. Penulis tidak akan memperdebatkan dari mana dan dari sumber apa kalian mendapatkan jawaban tersebut, karena ada satu hal yang penulis garis bawahi disini. Yaitu pada hal keadilan yang berlaku diantaranya.

        Di indonesia sendiri perihal dengan keadilan dan kesetaraan mengenai laki laki dan perempuan selalu identik dengan satu sosok yang mungkin cukup menginspirasi bagi sekalangan orang. Ya, sosok tersebut merupakan R.A Kartini. Sosok pejuang yang lahir di Jepara 21 April 1879 dan meninggal di Rembang 25 tahun kemudian. Yaitu lebih tepatnya pada tanggal 17 September 1904. Sosok ini dianggap sebagai sosok yang tangguh dan militan kala itu. Hal ini menjadi sangat lumrah ketika kita kembali melihat sosok Kartini dalam kiprahnya mendobrak ide ide feodalisme dan memperjuangkan kesetaraan bagi kaum perempuan pada masanya. Untuk lebih jelasnya mungkin para pembaca bisa untuk memperdalam mengenai R.A Kartini ini dari buku karya Armijn Pane yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. 

   Tepat pada tanggal 21 April kemarin bangsa Indonesia memperingati hari Kartini. Hal ini tidak terlepas dari ditetapkanya tanggal tersebut sebagai sebagai hari besar nasional oleh Soekarno pada tanggal 2 Mei 1964. Perjuangan dan ide ide mengenai emansipasi perempuan yang dicetuskan oleh Kartini lah yang kala itu mendasari Soekarno menetapkan tanggal tersebut untuk diperingati sebagai hari besar nasional. Semacam seremonial yang dikultuskan, perjalanan cerita peringatan hari kartini ini terus berkembang hingga pada masa orde baru. Tepat sekali, kala itu Indonesia sedang dipimpin oleh seorang jenderal yang bernama Soeharto. Dengan melihat bahwasanya kartini ini adalah pribumi jawa, maka Soeharto kala itu membuat dobrakan dengan peringatan hari kartini yang identik dengan budaya. Yakni dengan memakai kebaya, konde dan lain sebagainya.

      Budaya budaya peninggalan orba ini masih tetap eksis hingga sekarang. Hal yang membuat penulis bingung adalah tentang perihal apa yang membuat hari Kartini lantas untuk kita rayakan setiap tahun nya. Mungkin pertanyaan ini akan menjadi kontroversi dan memicu perdebatan baik dari sisi pro dengan emansipasi maupun dari sisi yang berseberangan tentu nya. Namun disini penulis mencoba untuk memposisikan diri penulis sebagai orang yang fakir ilmu dan memandang peringatan hari Kartini sebagai sebuah peristiwa dengan banyak asumsi dan subyektifitas yang mengekornya. Dan perlu penulis perjelas sekali lagi bahwa ini tidak seperti teori konspirasi bumi bulat ataupun bumi datar, tetapi ini hanya opini belaka. Dan berikut adalah kumpulan asumsi tersebut.

     Berkaitan dengan peringatan hari hal pertama yang penulis dapatkan adalah sebuah penghargaan atau apresiasi. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari cerita sejarah perjuangan dari Kartini itu sendiri. Bagaimana sepak terjangnya melawan ide ide feodalisme hingga bagaimana ia untuk memperjuangkan emansipasi perempuan kala itu. Dimana kondisi yang terjadi ketika itu perempuan jawa identik dengan 3M yaitu masak, macak dan manak. Sungguh sangat terbatas bukan? Bahkan untuk mengenyam pendidikan pun rasanya bagaikan mimpi jika kamu bukan keturunan penguasa atau bangsawan. Dan tidak mengherankan apabila hal ini turut di apresiasi.

      Hal yang kedua adalah peringatan hari Kartini sebagai bentuk penghinaan terhadap perempuan. Coba kita cermati secara seksama. Adanya sebuah memorial atau peringatan maka secara tidak langsung telah terjadi sebuah legitimasi bahwasanya perempuan adalah sosok yang lemah dan perlu untuk kemudian di apresiasi oleh negara. Contoh lain dari penghinaan yang terjadi secara tidak langsung ini adalah dengan ditetapkanya UU No. 2 tahun 2008, UU No. 10 tahun 2008 dan adanya zipper system yang mengatur keterlibatan keterlibatan perempuan dalam perpolitikan sekurang kurangnya dengan porsi sebesar 30% atau dengan minimal 1 dari 3 calon anggota parlemen adalah seorang perempuan. Hal ini bertujuan untuk menghindari dominasi dari salah satu jenis kelamin saja. Yang lagi lagi seolah memberikan judgment bahwasanya perempuan itu lemah dan perlu untuk dibantu.

     Dan yang terakhir adalah, apakah yang sekiranya menjadi penyebab ditetapkannya tanggal 21 April sebagai hari besar nasional? Apakah benar yang dikatakan Soekarno maupun Soeharto kala itu? Ataukah ini hanya upaya politisasi deri elit penguasa kala itu untuk kemudian menjadikan Kartini sebagai alat propaganda politik guna menggaet simpati dari masyarakat Indonesia khususnya dari sisi perempuan? Fenomena ini pun juga pernah muncul menjelang pilpres 2019 tepatnya dengan kemunculan “emak emak” yang menjadi basis propaganda politik. Entahlah, apapun itu yang pasti penulis masih merasakan ke abu abu an terhadap hal ini. Dan semoga subyektifitas kita dalam memaknai hari Kartini tersebut lantas tidak juga membuat kita mereduksi makna atau fakta yang ada. Dan pesan penulis kepada seluruh pembaca adalah jadikan Kartini sebagai sebuah literatur. Gali setiap hal positif yang ada untuk kemudian implementasikan dalam kehidupan di era millenial ini. Dan tetaplah menjadi manusia unggul dan berbudaya. Sebagai penutup berikut penulis sisipkan sebuah puisi tentang kartini. 

Sajak Wanita nan Cantik
Kala satu malam mengetuk pintu rumahku
Gemerisik bunyi serangga seperti alunan syair
Tiupan angin menghujam jantungku
Dengan dingin menyelimuti tulang rusukku
Oh kedua mataku! Bermurah hatilah kau berdua dan jangan membeku
Oh satu-satunya mulutku! Berkasih sayanglah dan jangan membisu
Apakah kau semua tidak menangisi Ibu Kartini si murah hati itu?
Apakah kau semua tidak rindu Ibu Kartini si pemberani nan cantik itu?
Apakah kau semua tidak ingat Ibu Kartini si cerdas nan bijaksana itu?
Tinggi ilmunya, tinggi pula adabnya
Lemah lembut pembawaannya, namun tegas dalam bersikap
Orang-orang banyak menjulurkan tangan
Mengharap kemuliaan dan kebijaksanaan
Sementara kemuliaan dan kebijaksanaan berebut menjulurkan tangan kepadanya
Hingga ia meraih kemuliaan dan kebijaksanaan melampaui dari yang mereka dapatkan
Setelah itu ia terus menapak naik
Perlahan-lahan hingga sampai pada puncak tertinggi
Meski ia paling lemah dipandangnya saat itu
Namun kobaran semangatnya tak pernah sedikitpun rapuh
Meski cacian dan hinaan menjadi santapan utamanya
Namun kepercayaan diri dan visinya tak pernah goyah sedikitpun
Meski perlawanan dan kesulitan yang setia berkawan
Namun cita-cita mulianya semakin mengakar kuat menjulang tinggi

Ketahuilah wahai Ibu Kartini!
Melalui sajak ini aku mewakili semua wanita hebat di semesta
Bahwa kami tak pernah sedikitpun melupakanmu
Terbitnya mentari mengingatkanku kepada Ibu Kartini
Akupun tersenyum setiap kali mentari terbenam
Karena pada saat itu aku berani berseru "Habis Gelap Terbitlah Terang"
Terimakasih Ibu Kartini
(Wahidah, 2020)


Penulis : Ilham H.A.P

Komentar

Postingan Populer